Ekor Ular

(Oleh: Ajahn Chah)

Kita sebagai manusia tidak menginginkan penderitaan. Kita tidak ingin yang lain selain kesenangan. Tetapi sesungguhnya, kesenangan merupakan penderitaan yang halus, tidak kentara. Rasa sakit adalah penderitaan yang nyata. Sederhananya, penderitaan dan kesenangan seperti seekor ular. Kepalanya adalah penderitaan, ekornya adalah kesenangan. Di kepalanya terdapat racun. Mulutnya mengandung racun. Jika kamu mendekati kepala si ular, ia akan menggigitmu. Jika kamu memegang ekornya sepertinya aman-aman saja, tetapi apabila kamu tetap memegang ekornya tanpa melepaskannya, ular tersebut akan berbalik dan menggigitmu juga. Hal ini dikarenakan baik kepala ular maupun ekornya terdapat pada satu tubuh ular yang sama.

Baik kebahagiaan maupun kesedihan berasal dari sumber yang sama: kemelekatan dan kegelapan batin. Itulah mengapa ada waktunya ketika kamu bahagia tetapi tetap merasa gelisah dan tidak nyaman –bahkan ketika kamu telah memperoleh hal yang kamu suka, seperti pencapaian materi, status, dan dipuji. Ketika kamu memperoleh hal-hal ini kamu merasa senang, tetapi sebenarnya pikiranmu tidak benar-benar damai karena ada kekhawatiran bahwa kamu akan kehilangan hal-hal tersebut. Kamu takut sumber kesenangan ini akan menghilang. Ketakutan ini yang menyebabkan kamu jauh dari kedamaian. Terkadang kamu ternyata benar-benar kehilangan hal-hal ini dan saat itulah kamu menjadi sangat menderita. Ini berarti bahwa bahkan apabila hal-hal ini membahagiakan, penderitaan berada dibalik kebahagiaan tersebut. Kita hanya tidak menyadarinya. Sama seperti ketika kita memegang seekor ular: Meskipun kita memegang ekornya, jika kita tetap memegang ular tersebut tanpa melepaskannya, ular tersebut akan balik dan menggigit kita.

Dengan demikian, kepala ular dan ekor ular, kejahatan dan kebaikan: Inilah yang membentuk sebuah lingkaran yang akan terus berputar. Itulah mengapa kesenangan dan rasa sakit, baik dan buruk bukanlah sang jalan.

(dikutip oleh KMBIJ (Keluarga Mahasiswa Buddhis Indonesia Jepang) dari buku 108 Perumpamaan Dhamma, Insight Vidyasena, 2012)

Pengumuman Kathina KMBIJ 2011

 Yassa dānena sīlena, saṃyamena damena ca; nidhī sunihito hoti, itthiyā purisassa vā. (Nidhikaṇḍasuttaṃ 6)

Namo Buddhaya,

 Rekan-rekan se-Dhamma,

Tidak terasa sebentar lagi kita akan memasuki masa Kathina yang  menandakan berakhirnya masa vassa yang merupakan salah satu kewajiban para bhikkhu setiap tahunnya. Selama masa vassa, para bhikkhu mempunyai tugas untuk membina diri dengan baik melalui meditasi dan mempelajari Buddha Dhamma untuk diketahui dan dibabarkan kepada orang banyak. Setelah massa vassa berakhir, para bhikkhu keluar dari tempat mereka ber-vassa untuk menerima persembahan dana dari umat yaitu empat kebutuhan pokok (catupaccaya) yaitu jubah (civara), makanan (pindapata), tempat tinggal (senasana), dan obat-obatan (bhesajja).

Sebagaimana kita ketahui, Sangha merupakan lapangan untuk menanam jasa yang tiada taranya di alam semesta ini. Selama 2500 tahun ini, Sangha adalah perlambang sila yang kokoh dan menyeluruh. Dengan adanya Sangha, yang anggotanya menjalankan peraturan kebhikkhuan (vinaya) dengan baik, Buddha Dhamma akan berkembang terus di dunia ini.

Maka marilah kita menambah kebajikan di bulan yang baik ini.

1. Untuk yang berdomisili di wilayah Kanto

Kita akan mengikuti acara Kathina di Vihara Dhammakaya Tokyo pada hari Minggu 16 Oktober 2011. Kumpul di Machiya station, exit 3, pk 09.45. Bawa barang2 utk pindapata dan dana Kathina. Sebaiknya dari sekarang sediakan amplop lalu tiap hari berdana Kathina walaupun sedikit, maksudnya supaya setiap hari melakukan kamma baik berupa menabur benih di ladang yg subur.

2. Untuk yg berdomisili di luar Kanto

Kita akan mengumpulkan dana Kathina seperti tahun2 yg lalu. Bagi yg hendak berdana, silakan mengirimkan dana Kathina ke rekening berikut:

Japan Post 10190-17525751

atau

Mitsui Sumitomo 6550-6990427

atas nama Lyta

Paling lambat hari Minggu 16 Oktober 2011.

Setelah mentransfer uang tersebut, para donatur diharapkan mengirimkan konfirmasi melalui email ke kmbij09@gmail.com atau melalui sms ke 090-8511-5888 (Softbank) dengan menyebutkan pilihan apakah uang tersebut ingin dikirim ke rekening vihara di Indonesia atau dibelikan paket dana Kathina (jubah, makanan, obat-obatan) di vihara di Indonesia, dan juga sebutkan dana tersebut atas nama siapa (atas nama pribadi, orang tua, keluarga, dsb).

File bukti pengiriman dana ke vihara akan dikirim melalui email ke alamat email donator seperti tahun-tahun lalu.

Bagi yg berdomisili di Kanto pun dapat mengikuti jalur nomor 2 seperti yang telah ditulis di atas.

 Kemudian bagi yang tidak dapat berdana karena alasan tertentu, diharapkan bisa anumodana (turut berbahagia) atas kebajikan yang dilakukan orang lain.

 Sekian pengumuman ini. Bila ada pertanyaan, tanggapan, saran, dan sebagainya, dapat disampaikan melalui email ke kmbij09@gmail.com atau melalui sms ke 090-8511-5888 (Softbank).

 Terima kasih.

Mettacittena,

Keluarga Mahasiswa Buddhis Indonesia di Jepang (KMBIJ)

Sapi yang Menangis

(Oleh: Ajahn Brahm)

 

 

 

 

 

 

Saya tiba lebih awal untuk memimpin kelas meditasi di sebuah penjara dengan pengamanan minim. Seorang narapidana yang tak pernah saya jumpai sebelumnya, telah menunggu untuk berbicara dengan saya. Dia seorang manusia sebesar raksasa dengan rambut seperti semak belukar, berjanggut, dengan lengan-lengan penuh tato. Bekas-bekas luka di wajahnya memberitahukan saya bahwa dia telah mengalami banyak perkelahian sadis. Dia terlihat begitu menakutkan sampai-sampai saya heran kenapa dia datang untuk belajar meditasi. Dia bukan jenis orang yang belajar meditasi. Tentu saja saya salah.

Dia berkata kepada saya bahwa belum lama ini terjadi sesuatu yang telah menghantui pikirannya. Saat dia mulai berbicara, saya menangkap aksen Ulster-nya yang kental. Untuk memberikan gambaran latar belakang, dia bercerita bahwa dia tumbuh besar di jalanan Belfast yang penuh kekerasan. Kasus penikamannya yang pertama terjadi pada saat dia baru berumur tujuh tahun. Seorang berandal di sekolah meminta uang bekal makan siangnya. Dia bilang tidak. Si anak yang lebih tua itu lalu menghunus sebilah pisau panjang dan untuk kedua kalinya meminta uang. Dia kira itu cuma gertak sambal saja. Sekali lagi dia bilang tidak. Si penggertak tak pernah meminta untuk ketiga kalinya, dia langsung menikamkan pisaunya ke lengan si anak tujuh tahun, mencabutnya dan langsung kabur.

Dia bercerita bahwa dalam keterkejutan dia berlari pulang dari halaman sekolah, dengan darah mengucur dari lengannya, menuju rumah ayahnya yang tak jauh dari situ. Ayahnya yang pengangguran melihat sekilas pada lukanya lalu membawanya ke dapur, tetapi bukan untuk membalut lukanya. Sang ayah membuka laci dapur, mengambil sebuah pisau dapur yang besar, memberikan kepada puteranya, dan menyuruhnya kembali ke sekolah untuk membalas menikam si penggertak.

Begitulah dia dibesarkan. Jika dia tidak tumbuh demikian besar dan kuat, pastilah dia sudah lama tewas.

Penjara itu memiliki peternakan di dalamnya, tempat para napi dengan masa hukuman pendek atau napi yang tak lama lagi akan dibebaskan, dapat bersiap menghadapi kehidupan bebas di antaranya dengan belajar mengenai perdagangan dalam industri peternakan. Lebih lanjut, penjara ini memasok produk-produk makanan murah ke seluruh penjara di Perth, sehingga dapat menekan biaya. Peternakan Australia mengembangbiakkan sapi, domba, dan babi, tidak hanya gandum dan sayur mayur; begitu pula dengan penjara yang satu ini. Namun tidak seperti peternakan lainnya, penjara ini mempunyai rumah jagalnya sendiri, langsung di tempat.

Setiap napi wajib punya pekerjaan di penjara ini. Saya mendapat informasi dari beberapa penghuni penjara bahwa pekerjaan sampingan yang paling banyak dicari adalah pekerjaan di rumah jagal. Pekerjaan ini terutama populer di kalangan para pelanggar kekerasan. Dan pekerjaan yang paling disukai, bahkan Anda harus bertarung untuk mendapatkannya adalah pekerjaan sebagai penjagal itu sendiri. Si raksasa Irlandia yang menakutkan itu adalah seorang penjagal.

Dia menggambarkan keadaan rumah penjagalan itu kepada saya. Pintu berjeruji dari baja anti-karat yang super-kuat, lebar pada pembukaannya, turun menyempit ke sebuah lorong tunggal dalam gedung, yang lebarnya hanya pas untuk satu ekor hewan pada satu saat. Di ujung lorong sempit itu, di atas sebuah landasan, dia akan berdiri sambil memegang sebuah senapan listrik. Sapi, babi, atau domba akan dipaksa masuk ke lorong antikarat tersebut dengan menggunakan anjing-anjing dan cambuk. Dia berkata bahwa hewan-hewan itu akan selalu menjerit-jerit, dengan caranya masing-masing, mencoba untuk melarikan diri. Hewan-hewan itu dapat mencium bau kematian, mendengar suara kematian, merasakan kehadiran maut. Saat seekor hewan telah berada di sepanjang landasan, dia akan menggeliat, meronta, dan melenguh dengan suara keras. Meskipun senapan listriknya mampu mematikan seekor banteng besar dengan sekali sengatan tegangan tinggi, tetapi hewan-hewan itu tak pernah berdiam cukup lama sampai dia dapat membidik dengan baik. Jadi ada sekali tembakan untuk membuat hewan itu terdiam, dan tembakan berikutnya untuk mematikannya. Satu tembakan untuk mendiamkan, tembakan berikut untuk mematikan. Hewan demi hewan. Hari demi hari.

Orang Irlandia ini selalu merasa bergairah setiap kali mengalami kejadian itu, sampai beberapa hari belakangan ini, saat sesuatu yang sangat merisaukannya terjadi. Dia mulai menyumpah. Selanjutnya dia terus mengulang, “Demi Tuhan, ini sungguhan!” Dia khawatir kalau saya tidak mempercayainya.

Pada hari itu mereka membutuhkan daging sapi untuk penjara-penjara di sekitar Perth. Mereka tengah menjagal sapi. Satu tembakan untuk mendiamkan, tembakan berikut untuk membunuh. Dia menjalani hari-hari pembantaian seperti biasanya, sampai ketika seekor sapi datang mendekat, dia belum pernah melihat hal seperti ini sebelumnya. Sapi yang ini tenang. Bahkan tak terdengar suara lenguhan. Kepalanya menunduk ketika dia berjalan dengan penuh sengaja, dengan sukarela, perlahan-lahan menuju tempat di ujung landasan. Dia tak menggeliat, meronta, atau mencoba kabur.

Begitu berada di posisinya, sapi itu mengangkat kepalanya dan memandang penjagalnya, dalam diam mencekam.

Belum pernah si Irlandia ini melihat hal-hal semacam ini sebelumnya. Pikirannya menjadi mati-rasa oleh kebingungan. Dia tak mampu mengangkat senapannya, pun tak mampu melepas tatapan matanya dari mata sapi itu. Sapi tersebut melihat tepat ke dalam dirinya.

Dia tergelincir ke dalam ruang tanpa waktu. Dia tak dapat memberitahu saya berapa lama kejadian itu berlangsung, tetapi tatkala sapi itu membekukannya melalui kontak mata, dia memperhatikan sesuatu yang bahkan lebih menohoknya. Sapi memiliki mata yang sangat besar. Dia melihat pada mata kiri sapi itu, di atas kelopak bawahnya, air mulai mengambang. Gumpalan air mata itu makin bertambah terus, sampai kelopak matanya tak dapat menampungnya lagi, air itu mulai menetes jatuh menyusuri pipinya, membentuk sungai air mata yang berkilauan tertimpa cahaya. Pintu relung hatinya mulai terbuka perlahan-lahan. Dalam ketidakpercayaan, dia melihat mata kanan sapi itu, di atas kelopak bawahnya, terkumpul lebih banyak air mata, yang terus terkumpul, melampaui daya tampung kelopaknya. Sebuah sungai air mata kedua menyusuri wajah sapi itu. Dan si besar Irlandia itu pun terkulai.

Sapi itu menangis.

Dia bercerita kepada saya bahwa dia membuang senapannya, bersumpah bahwa petugas penjara boleh melakukan apa saja atas dirinya sejauh batas kemampuannya, ASALKAN SAPI ITU JANGAN DIBUNUH!

Dia mengakhiri kisahnya dengan memberi tahu saya bahwa dia sekarang menjadi seorang sayuranis (vegetarian).

Ini kisah nyata. Para penghuni lain di penjara itu mengkonfirmasikan kebenarannya kepada saya. Seekor sapi yang menangis telah mengajarkan seorang pria yang paling kejam arti dari kepedulian.

(KMBIJ mengucapkan Selamat Memasuki Bulan Kathina), Tokyo, 9-10-11

Burung berkepala dua

(oleh: Master Cheng Yen)

Ada seekor burung berkepala dua. Diantara kedua kepalanya harus ada satu yang beristirahat (si tidur), satunya lagi tetap sadar dan berjaga jaga (si sadar).
Salah satu dari kepalanya sangat suka tidur, maka seringkali kepala yang satunya lagi harus tetap dalam keadaan sadar dan waspada
Pada saat tibanya untuk makan, si sadar si tidur untuk makan bersama, setelah makan si tidur melanjutkan tidurnya kembali.
Dan si sadar itu pun juga tidak keberatan dan selalu berjaga-jaga. Pada suatu hari, si sadar berkata “Hei ! Saya sudah lelah dan ingin tidur, tugas berjaga-jaga diserahkan padamu!”

Ketika kepala yang sadar itu telah terlelap dalam tidurnya., tiba-tiba tiupan angin, telah menjatuhkan sebutir buah yang ranum yang secara kebetulan menggelinding di samping burung berkepala dua.
Melihat si sadar telah tertidur dengan sangat nyenyak, si tidur merasa tidak tega untuk membangunkan nya, di benak si tidur berpikir, kalaupun dia telah memakan buah yang ranum ini, si sadar pun juga akan ikut menikmatinya.

Akhirnya, si tidur memakan buah yang ranum itu. Tiba-tiba si sadar terbangun dari tidurnya dan berteriak “Eeeekh !”
“Engkau telah memakan makanan apa? Mengapa sendawanya mengeluarkan bau yang demikian harum?”

Si tidur pun menjawab “Sebutir buah yang ranum. Saya tidak tega membangunkanmu, Maka saya memakan sendiri.”
Tampaknya si sadar pun kesal dan berkata “Buah ranum yang demikian lezat, mengapa tidak membangunkan saya untuk mencicipinya bersama? Baiklah, pada suatu hari nanti saya ingin membalasnya !”

Setelah beberapa waktu berlalu…..
“Hari ini engkau boleh beristrirahat sejenak, biarlah saya bertugas berjaga-jaga !” kata si sadar.
Tiba-tiba ada lagi sebutir buah yang jatuh tertiup angin . Tetapi dia sadar bahwa buah yang sebutir ini adalah buah beracun. niat jahat si sadar pun muncul, “Saya makan saja buah ini. Kalaupun mati biarkan mati berdua !” Dengan hati penuh kebencian dia memakan buah beracun itu!

Dalam melatih diri harus mengandalkan pada diri sendiri, hanya tergantung pada kesungguhan hati dan tekad untuk berupaya menghapus keserakahan, kemarahan, kebodohan, serta kecurigaan dan kesombongan terhadap orang lain, baru dapat menghapus segala kerisauan, kalau tidak, meskipun terlahir sebagai burung berkepala dua yg memiliki badan satu, juga masih ada sifat yg ingin membalas dendam serta niat jahat yg ingin mencelakai pihak lain, berakibat mencelakai orang lain dan juga diri sendiri, alangkah menyedihkan.

Dedaunan yang Berguguran

(Oleh: Bhikkhu Ajahn Brahm)

Barangkali kematian yang paling sulit kita terima adalah kematian dari seorang anak. Pada beberapa kesempatan, saya pernah diberi kehormatan untuk memimpin upacara pemakaman bagi seorang anak laki-laki atau perempuan, seseorang yang belum lama mengecap pahit-manisnya kehidupan. Tugas saya adalah membantu menuntun orang tua yang tengah tertekan, dan anggota keluarga lainnya, mengatasi siksaan rasa bersalah dan tuntutan obsesif atas jawaban dari pertanyaan, “Mengapa?”

Saya sering menceritakan perumpamaan berikut ini, yang dikisahkan kepada saya beberapa tahun silam di Thailand.

Seorang bhikkhu hutan yang sederhana tengah bermeditasi sendirian di sebuah pondok jerami di tengah hutan. Pada suatu larut malam, terjadilah badai musim hujan yang garang. Angin menderu-deru bagaikan suara mesin jet dan hujan lebat menerpa pondoknya. Semakin malam beranjak pekat, badai makin bertambah liar. Mula-mula, dahan-dahan pohon terdengar tercerabut dari batangnya. Lalu seluruh bagian pohon terenggut oleh angin ribut dan dihempaskan ke tanah dengan suara sekeras guntur.

Sang bhikkhu segera sadar bahwa pondok jeraminya tak akan sanggup melindunginya. Jika sebuah pohon tumbang menimpa pondoknya, atau meskipun cuma sebuah dahan besar, pondoknya akan rata dengan tanah dan meremukkannya sampai mati. Dia tidak tidur sepanjang malam. Sering kali sepanjang malam itu, dia seolah mendengar para raksasa hutan mendobrak permukaan tanah dan hatinya berdegup untuk sesaat.

Beberapa jam sebelum fajar menyingsing, secepat datangnya, begitu pula badai itu berlalu. Pada dini hari, sang bhikkhu keluar dari pondoknya untuk memeriksa kerusakan yang terjadi. Banyak dahan besar dan dua pohon berukuran lumayan yang luput mengenai pondoknya. Dia merasa beruntung masih hidup. Apa yang tiba-tiba menarik perhatiannya, bukanlah pohon-pohon yang tercerabut dan dahan-dahan patah yang berserakan di mana-mana, tetapi dedaunan yang sekarang tersebar menyelimuti lantai hutan.

Seperti dugaannya, kebanyakan dedaunan yang berguguran adalah daun-daun yang berwarna coklat tua, yang telah memenuhi umur kehidupannya. Di antara dedaunan yang berwarna coklat terdapat banyak daun yang kuning. Bahkan terdapat pula beberapa daun yang hijau. Dan daun-daun yang berwarna hijau itu masih segar dan cerah, sehingga sang bhikkhu tahu bahwa dedaunan itu baru saja jatuh dari pucuknya. Pada saat itulah hati sang bhikkhu memahami sifat kematian sebagaimana adanya.

Dia ingin menguji kebenaran dari pengetahuan yang baru saja dipahaminya, lalu dia mendongak ke arah dahan-dahan pohon itu. Cukup meyakinkan, hampir sebagian besar dedaunan yang tertinggal di pohonnya adalah dedaunan hijau yang sehat segar, pada kehidupan dininya. Namun, meskipun banyak dedaunan muda yang gugur di atas tanah, ada sebagian daun berwarna coklat tua peot dan keriting yang tetap bertahan di dahannya. Sang bhikkhu tersenyum, mulai hari itu, kematian seorang anak tak akan pernah lagi membingungkannya.

Ketika badai kematian datang menghempaskan keluarga kita, badai itu biasanya mengambil orang-orang yang sudah tua, “dedaunan yang coklat burik”. Badai itu juga mengambil orang-orang yang paruh baya, seperti daun-daun kuning di pohon. Kadang, anak-anak belia pun meninggal juga, pada usia dini mereka, seperti halnya dedaunan yang berwarna hijau. Dan suatu kali kematian juga merenggut kehidupan dari anak-anak yang kita kasihi, seperti badai merenggut tunas yang masih hijau. Inilah sifat hakiki dari kematian dalam kehidupan kita, sebagaimana hakikat badai di sebuah hutan.

Tak seorang pun yang perlu disalahkan dan tak seorang pun yang harus merasa bersalah atas kematian seorang anak. Inilah sifat alami dari segala sesuatu. Siapa yang bisa menyalahkan badai? Hal ini dapat membantu kita untuk menjawab pertanyaan mengapa anak-anak meninggal. Jawabannya sama dengan mengapa sebagian daun yang masih hijau berguguran dalam sebuah badai.

Selamat Hari Magha Puja 2554 BE

Selamat Hari Magha Puja 2554 BE.

Hari Magha Puja memperingati persamuan agung di bulan Magha yang dinamakan Caturangasanipata, yaitu pertemuan akbar yang didukung oleh 4 (empat) faktor peristiwa utama yang istimewa, yaitu :
1. Berkumpulnya 1250 bhikkhu tanpa diundang.
2. Mereka semuanya telah mencapai tingkat kesucian arhat dan memiliki kemampuan abhinna.
3. Mereka ditahbiskan oleh Sang Buddha sendiri dengan Ehi Bhikkhu Upasampada.
4. Sang Buddha membabarkan Ovadapatimokkha kepada mereka.

Ovadapatimokkha yang dibabarkan oleh Sang Buddha adalah sebagai berikut:

Khantī paramaṃ tapo tītikkhā
Nibbānaṃ paramaṃ vadanti buddhā,
Na hi pabbajito parūpaghātī
Samaṇo hoti paraṃ viheṭhayanto

Kesabaran adalah praktik bertapa yang paling tinggi.
” Nibbana adalah yang tertinggi,” begitulah sabda para Buddha.
Dia yang masih menyakiti orang lain,
Sesungguhnya bukanlah seorang pertapa (samana).

Sabba-pāpassa akaraṇaṃ,
Kusalassūpasampadā,
Sacitta-pariyodapanaṃ:
Etaṃ buddhāna-sāsanaṃ.

Janganlah berbuat kejahatan,
Perbanyaklah perbuatan baik,
Sucikan hati dan pikiran,
Inilah ajaran para Buddha.

Anūpavādo anūpaghāto
Pāṭimokkhe ca saṃvaro
Mattaññutā ca bhattasmiṃ
Pantañca sayan’āsanaṃ.
Adhicitte ca āyogo:
Etaṃ buddhāna-sāsananti.

Tidak menghina, tidak menyakiti,
Mengendalikan diri sesuai dengan peraturan,
Makanlah secukupnya,
Hidup di tempat yang sunyi,
Dan giat mengembangkan batin nan luhur,
Inilah ajaran para Buddha.

Selamat Hari Magha Puja. Semoga pada saat kita memberikan penghormatan kepada Buddha dan kepada para Arahat dengan lilin, bunga, dan dupa , hendaknya kita mampu merenungkan:”Sudahkan saya menjalani kurangi kejahatan, perbanyak kebajikan, sucikan pikiran?” Semoga semangat kebersamaan dari 1250 bhikkhu Arahat yang berkumpul dengan inisiatif sendiri dapat menginspirasi kita agar bersama-sama tetap mempertahankan dan mengembangkan Buddha Dhamma.

Perayaan Tahun Baru Imlek dan Diskusi Dhamma KMBIJ

Imāni pañca sikkhā-padāni:
Sīlena sugatiṃ yanti.
Sīlena bhoga-sampadā.
Sīlena nibbutiṃ yanti.
Tasmā sīlaṃ visodhaye.

Itulah yang dinamakan lima latihan sila.
Dengan melaksanakan sila akan berakibat terlahir di alam bahagia
Dengan melaksanakan sila akan memperoleh kekayaan (dunia dan Dhamma)
Dengan melaksanakan sila akan berakibat tercapainya Nibbhana.
Sebab itu laksanakanlah sila dengan sempurna.

Itulah bait yang diucapkan oleh para bhikkhu sesudah kita mengucapkan Pancasila Buddhis. Dari bait di atas kita bisa melihat betapa pentingnya melaksanakan sila itu. Nah, dalam rangka menyambut Tahun Baru Imlek ini, marilah kita mengadakan Diskusi Dhamma dengan tema Pancasila Buddhis dalam Kehidupan Sehari-hari pada hari Minggu 6 Februari 2011. Diharapkan bhw di tahun yg baru ini kita dapat melaksanakan Pancasila Buddhis dalam kehidupan kita.

Dalam acara kali ini, tiap orang akan membawakan pembahasan satu sila dengan pembagian sbb:
1. Sila pertama: Yan
2. Sila kedua: Vendy
3. Sila ketiga: Budiman
4. Sila keempat: Martin
5. Sila kelima: Hilda

Pembahasan meliputi:
- Keterangan singkat tentang sila yang bersangkutan.
- Pembahasan contoh-contoh yang kontroversial dalam kehidupan sehari-hari atau yang di mana pandangan Buddhis berbeda dengan pandangan agama lain.

Semoga dengan adanya Diskusi Dhamma kali ini, kita semua menjadi semakin tahu tentang Pancasila Buddhis dan semakin bersemangat untuk melaksanakan sila dalam kehidupan sehari-hari.

Oh ya, sesudah Diskusi Dhamma, kita akan bersama-sama ke rumah seorang teman di wilayah Machida untuk merayakan Tahun Baru Imlek.